Lezatnya Gorengan Di Ngunut

Dilihat dari tampilannya, mungkin gorengan ini hanya biasa-biasa saja. Sama saja dengan gorengan lain yang sering kita beli di pinggir jalan atau di dekat rumah kita. Sekilas memang tidak ada yang istimewa. Hingga saat saya mencoba untuk memakannya beberapa tahun yang lalu. Semuanya menjadi berubah. Saat saya memakan ini, saya ingin terus memakannya lagi. Mungkin kalau tidak di stop perut ini bisa kekenyangan setelah makan 3 atau 4 buah mengingat ukuran gorengan ini juga tidak kecil. Lebih besar dari yang sering kita jumpai di sekitar kita.gorengan 2
Salah satu kudapan ini memang seakan sudah menjadi tradisi di Indonesia. Saya tidak pernah tahu kapan dan siapa yang memulainya. Hal yang paling saya ingat sampai dengan saat ini adalah gorengan di depan asrama universitas Brawijaya Malang. Sayang, penjual tersebut sekarang sudah tidak ada. Tidak hanya renovasi besar-besaran yang membuat mereka sekarang tidak ada, namun setelah beberapa tahun setelah saya lulus di tahun 2006 mereka sudah pindah entah kemana.

Kembali ke gorengan ini, rasanya memang sedikit agak manis. Belum lagi ada tambahan saus yang di buat dari gula jawa dan entah apa bahannya. Namun, rasa gula jawanya sangat kuat sehingga sangat mudah untuk mengenalinya. Saus ini sebenarnya hanya bisa Anda dapatkan kalau Anda beli lumpia. Jangan bayangkan lumpia di sini sama dengan lumpia dari semarang yang bahannya memang lengkap dan rasanya juga tidak bisa di bandingkan.

Tapi di sini, lumpianya memang lebih kecil dan bahannya juga lebih sederhana. Bila di bandingkan dengan harga dan rasanya, lumpia ini sangat cocok saya rekomendasikan untuk Anda karena murah sekitar 2.500 an kalau tidak salah. Semoga sekarang belum naik karena saya sudah lupa kapan terakhir membeli gorengan ini.

Tidak hanya lumpia, ada juga ote-ote atau bakwan hingga tahu isi yang bisa Anda jadikan pilihannya. Untuk saya, dari beberapa macam makanan tersebut memang ote-ote lah yang paling saya suka. Kalau Anda beruntung, terkadang ada satu udang di dalamnya. Tapi sayang sekali, sekarang ini sepertinya jarang sekali ada udangnya. Mungkin penjualnya merasa rugi atau entahlah. Namun, bila ada udangnya memang rasanya bikin ingat terus. Sampai sekarang. Sampa beberapa tahun pun rasanya juga masih ingat. Ngangenin.

gorengan 3

Harganya yang memang lebih mahal bila di bandingkan dengan gorengan di pinggir jalan ini memang membuat istri saya juga berfikir dua kali untuk membeli dalam jumlah banyak. Namun, karena jarang membeli akhirnya dibeli juga dalam jumlah banyak. Kadang buat oleh-oleh kakak ipar dan mertua saya di Ngunut. Waktu untuk bisa membelinya pun juga tidak sembarangan. Gorengan ini hanya bisa di beli saat pagi hari. Biasanya sekitar puku 10 an pagi gorengan ini sudah habis karena memang banyak peminatnya. Saya juga tidak tahu kenapa penjualnya tidak memperbanyak stok atau menambah kapasitas produksinya. Mungkin agar langka kali, ya? 🙂

Bagi Anda penikmat jajanan tradisional ini, yuk di sharing di kolom komentar di bawah ini ya.. Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s